Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin mengulang kembali salah satu kejadian yang pernah terjadi selama 4 tahun saya kuliah meskipun sampai detik ini saya belum mendapatkan gelar S.Pd itu.
#BebaskanMahasiswaDariSkripsi
#BebaskanMahasiswaDariDosenKejam
#BebaskanDiaDariPacarnya.
#BebaskanMahasiswaDariSkripsi
#BebaskanMahasiswaDariDosenKejam
Siang itu, beberapa teman saya maju untuk mempresentasikan hasil diskusi dari kelompok mereka. Setengah lelah, mereka maju dengan materi yang mungkin mereka siapkan sebelumnya. Setelah beberapa menit menyampaikan diskusi kelompok, sampai lah mereka pada tahap sesi tanya jawab. Di dalam sesi tanya jawab itu pemateri mendapatkan pertanyaan yang relevan dan masuk akal dengan materi yang mereka sampaikan. Namun, entah karena mereka menyiapkan materi secara asal asalan atau memang mereka tidak menguasai materi akhirnya mereka pasrah. kalau kita situasikan percakapan pada waktu itu kurang lebih bakal seperti ini.
Pemateri: Any question? *dengan memasang muka menodong supaya tidak banyak tanya*
Peserta: You mention a couple of things about bla bla bla bla...
Pemateri: We would like to find another question while we discuss about your question, anyone else?
Peserta:.... *hening teratur*
Pemateri: Oke, base on your question we would like to answer it with simple answer. Well, it depends on the context, if you think bla bla bla you will get bla bla bla
Peserta: What if the situation shows us about bla bla bla.
Pemateri: oke, back again, it depends on you. itu tergantung dari anda mbak dalam menyikapinya. *still ignoring*
Nb= I dont know what they talking about at that time cause im so sleepy yet I dont understand the subject. so, how did you know about conversation?
NB = I just make a conclusion from what I heard. just like that.
Begitulah kurang lebih diskusi pada siang itu. disatu sisi pemateri ada benarnya menjawab dengan depends on you, tapi di sisi lain saya merasa kesal karena si pemateri hanya menjawab pertanyaan yang sesimple itu tanpa ada solusi yang bisa diberikan secara konkret. Disitu saya merasakan relatable dari jawaban yang diberikan oleh si pemateri dalam kehidupan sehari hari maupun masalah hati.
Well, after I spend my 4 years for learning in university, the only thing that I can remember is that thing. Hmmm, nggak saya gak sebego itu kok banyak yang saya pelajari. Namun itu adalah beberapa contoh yang akan selalu saya kenang dari kuliah saya. Dan dari pengalaman itu juga saya ingin menyatakan apakah memang pantas untuk kita mendapatkan kesempatan ke dua? atau ke tiga? atau bahkan ke empat?
Semuanya bergantung kembali kepada konteks masalah yang ada. Ditambah dengan seberapa rumit masalah itu dan seberapa besar seseorang yang telah kita kecewakan itu juga termasuk salah satu perhitungan untuk mendapatkan kesempatan kedua. In case whenever you fall in love then the relationship become complicated, then you broke up, then you sad, then you miss him/her. Just think about this line "Do you deserve a second chances with her/him?
Jawabannya cuma satu: tergantung masalah yang kalian hadapi. Apa memang benar masalah yang kalian hadapi itu cukup besar sehingga membuat kalian gak bisa bersatu sama lain atau hanya masalah sepele yang terkadang hanya muncul di karenakan lupa untuk membalas chat karena ketiduran?
Sebagian besar orang mungkin masih memiliki kesempatan kedua dengan mudahnya karena beralaskan cinta, belum lagi mereka yang mengatasnamakan sayang yang memberikan kesempatan kedua meskipun telah disakiti sebelumnya. Lebih hebatnya lagi combo sayang dan cinta yang mampu memaafkan segalanya sehingga muncul lah kesempatan ketiga ataupun ke empat. lagi lagi mereka di permainkan oleh cinta dan perasaan.
Di lain posisi kesempatan kedua diberikan karena seseorang ingin melihat dan mencoba memperbaiki suatu hubungan yang telah rapuh sebelumnya. Dan dari sana pula pilihan mereka bercabang menjadi dua arah. Yang pertama ialah mereka berhasil dan menjalakan hubungan serta memperbaiki hal yang telah rapuh sebelumnya dan yang kedua ialah mereka mereka yang menyia nyiakan kesempatan yang ada ntah karena sengaja mencari ulah atau memang sesuatu yang 'rusak' tak bisa di perbaiki lagi.
Sebagian besar lainnya untuk mendapatkan kesempatan kedua saja harus jungkir balik dikarenakan kesalahan mereka sendiri yang sangat fatal. Bahkan untuk sekedar mendapatkan kalimat maaf saja sungguh sulit, biasanya itu terjadi karena perbuatan yang telah terjadi sebelumnya dan benar saja perbuatan itu akan selalu membakas sehingga menjadi memori yang tak akan pernah di ulangi lagi. Disitulah kita para 'pencari' kesempatan kedua harus sadar bahwa kita harus maju dan tak perlu lagi untuk mengharapkan kesempatan kedua itu datang lagi.
Pada akhirnya semua kesempatan itu membutuhkan waktu karena sesuatu yang tersakiti akan terobati atau memang semesta yang mempertemukan kembali.